Thursday, January 24, 2008

Batak Religion (1)

Long before the Christianity and Islam came to Batak Land, the Batak believed to god that creates the universe. The Batak conception about God is actually different with Trimurti, the triad of divinities in Hinduism and Buddhism yet the old Megalithic and Hindu influences have some contributions to the formation of ancient Batak culture. For the Batak, the trinity god has its own distinct function. The highest supreme God for the Batak is called Debata Mula Jadi Na Bolon who rules and has power over all of the cosmic wolds. Traditional Batak cosmological concept divides the existence into three levels or worlds; the upper-world, called Banua Ginjang, the middle-world, called Banua Tonga, and the lower-world, called Banua Toru. The upper-world is the kingdom of the highest god, Mula Jadi Na Bolon and souls of the ancestors. The middle-world is lived by men and the lower-world is the home of the Naga Padoha or the dragon.

The Batak admit all cosmic wolds as the totality of those three worlds; the upper-world, the middle-world, and the lower-world, where every level has its own peculiar role in the harmony of life. Batak mythologi describe a tree of life stands from the lower-world to the upper-world to symbolize the highest god unifies and links the three worlds and represents the whole cosmic rules as the Lord of the Universe.

We can see here how difficult it is in understanding the original Batak religion. Eventhough we've found what the orginal religion of Batak is, we can't ignore every external influences. However, the Batak religion has been mixed or influenced each other with the external elements. Furthermore, looking at the trinity concept, it's so much similiar with Trimurti in Hindu-Buddha, among Brahmana, Vishnu, and Shiva. Debata Mula Jadi Na Bolon as the God of the universe, in his incarnation power, have three funcitions; it's then called Debata Si Tolu Sada (The Three Devatas in One). Mula Jadi Na Bolon is called Tuan Bubi Na Bolon as the ruler of the upper-world; Silaon Na Bolon as the ruler of the middle-world; and Pane Na Bolon as the ruler of the lower-world; and Debata Mula Jadi Na Bolon is the cosmos itself regarding him as the ruler of cosmic world. We could see the smilarities between those gods with the gods in Trimurti yet actually they are different in power and position.

The explanation about trinity concept in Batak religion is clearly unable to determine the original religion of Batak ancestor. The mix of different elements makes it more difficult to determine Batak original religion. But we could see the result of that religion in the way of life, the perceptions, and the rituals of Parmalim religion and Parbaringan religion which are still exist among the people of Toba Batak nowadays.

Monday, January 21, 2008

O Tano Batak


I've been always listening to the song entitled O Tano Batak these few days. It's been a while since the last time I visited Tanah Batak where I ever spent a part of my childhood. Listening to this song makes me longing about homeland. Spending time doing my works while listening to the song is not a bad choice at all. Instead, all memories I had before I move to Java comes in rhyme with the powerful voice of uncle Victor Hutabarat. Felt like flying to the Land of the Kings, Tano Batak. I still remember the situation there. Magnificient hills surrounding beautiful Toba Lake, large paddy fields, water buffalow with the kids joyully sitting on its back, songs sung by sunday schoold children, pine trees, the cool weather, how any halak hita (Bataknese) could forget that.

Anyway, O Tano Batakis widely regarded as one of the unofficial “national anthems” of the Batak people of North Sumatra, Indonesia. This folk song tells the story of someone who has traveled all over the world but still remembers his homeland. Batak choirs often sing it at cultural festivals. Grandpa (RIP) told me this song when I was a kid and he said that everytime the people in Tapanuli, North Sumatra officially welcomed guests, they would sing this song.


O TANO BATAK

Pencipta ; S. Dis Sitompul


O tano Batak haholonganku
Sai namasihol do au tu ho
Ndang olo modom
Ndang nok matangku sai namalungun do au
Sai naeng tu ho

Kor
O tano Batak sai naeng hutatap
Dapothononku tano hogodanganki
O tano Batak andingan sahat
Au on naeng mian di ho sambulon hi.

Molo dung binsar mataniari
Napanapuhon hauma disi
Denggan do ngolu
Si Ganup ari di namaringan di ho
Sambulon hi


O TANAH BATAK


(Terjemahan Indonesia: oleh Barita M. S)
Pencipta ; S. Dis Sitompul

O tanah Batak yang kucinta
Selalu aku rindu padamu
Tak bisa tidur, mataku tak dapat terlelap
Selalu aku ingin datang padamu.

Kor
O tanah Batak selalu ingin kupandang
Aku datangi tanah kelahiranku
O tanah batak kapan sampainya
Aku berada di kau ( disana), kerinduanku

Bila matahari sudah terbit
Yang membuat subur ladang – ladang
Sungguh baik kehidupan sehari – hari
Waktu aku ada di kau (disana)


O BATAK LAND


(English translation: Bruce Gale)
Composer ; S. Dis Sitompul

O Batak land, the land that I love
I always feel I am missing you
You know I can’t sleep, I can’t close my eyes
I just always desire to come to you

Chorus
O Batak land, I want to see you
I want come to the land of my birth
O Batak land, when I arrive there
I will be there always, I miss you

Whenever the sun rises in the sky
It makes the fields just flourish and thrive
So wonderful was life in those days
That is just how it was when I was there

Video Clip


O Tano Batak
Victor Hutabarat

Sunday, January 6, 2008

Budaya Indonesia

Indonesia dan Malaysia saling adu pendapat di YouTube. Coba dicek ke salah satu sajian video ini . Sayang sekali kalo kita sebagai bangsa serumpun harus bersitegang. Isi komentar tersebut terasa panas menyusul isu pengklaiman beberapa kebudayaan Indonesia yang diklaim sebagai kebudayaan Malaysia beberapa saat yang lalu. Kalkita fikirkan, memang tidak seharusnyalah kita mengklaim budaya negara lain sebagai budaya kita. Kita harus puas dengan budaya sendiri. Salah satu komentar di video yang berjudul raja saman di atas berasal dari seorang warga Malaysia yang berkata seperti ini:

"Saudara/i andai kata satu hari nanti orang2 di Acheh berpindah ke Malaysia atas dasar mencari penghidupan baru/ bekerja dan terus jadi warga tetapnya hidup dan mati di bumi Malaysia seperti moyang, datuk dan nenek kami dahulu yang dari seluruh pelusuk nusantara, apakah budaya2 ini akan dibawa bersama atau ia hanya untuk orang yang khusus lahir, hidup dan mati di bumi Indonesia saja? Adilkah ia untuk anak,cucu dan cicit anda?"


Yang mendapat balasan dari seorang Indonesia seperti ini:

"Halo utk karyaone. Trm ksh anda telah memberi perhatian kepada video ini ataupun komentar2 yang menyertainya.Sebelumnya saya ingin memberikan pernyataan bhw setiap orang mempunyai sudut pandang yang berbeda.Ini adlh tarian yg berasal dr Nanggroe Aceh Darussalam.Atau yg orang malon lebih kenal dg nama Acheh.Nanggroe Aceh Darussalam adalah salah satu dr provinsi2 di Indonesia.Bukan Malaysia (Malingsia)"

"Artinya,selama NAD bukan bagian dari Malingsia, apapun yang terjadi Malingsia tdk dapat menganggap itu adalah budaya anda. walaupun ada banyak orang Aceh di malingsia, selama provinsi tersebut bkn bagian dr malingsia,anda hanya bermimpi di siang hari.Apakah anda mau mengakui lion dance itu dari malingsia? yang anda dapat nyatakan adalah tarian itu DIAPRESIASIKAN di malingsia (anda harus memahami apa arti kata DIAPRESIASIKAN)"

"Jangan suka berlebihan dengan mengatakan itu adlh berasal dr malingsia. Seharusnya anda cukup puas dengan budaya anda sendiri. Apabila saya seorang melayu (malon), saya akan malu dan marah kepada orang yang mengakui budaya orang lain sebagai budayanya. Apakah budaya melayu kurang? Apa yg salah dari budaya melayu, hingga orang melayu sendiri tidak bangga dan tidak cukup puas dengan budaya melayu. Terima kasih."


Kalau kita simak kedua komentar di atas, kesimpulan yang dapat kita peroleh adalah kebudayaan merupakan hal yang sangat berharga. Jelas sekali dari komentar pertama bahwa ada kecenderungan kalau budaya Aceh berupa Tari Saman disambut baik oleh saudara kita dari Malaysia tersebut. Hanya saja memang ada siratan kata-kata yang mengesankan keinginan untuk memiliki budaya tersebut. Sangat jelas dari komentar tersebut.

Wajar apabila ada balasan terhadap komentar tersebut yang terkesan tegas menjelaskan bahwa budaya Aceh akan tetap menjadi budaya Aceh dan budaya Indonesia akan tetap menjadi budaya Indonesia. Seandainyapun ada orang Indonesia yang menetap di Malaysia dan dia orang Aceh, tidak seberapa jumlahnya dibandingkan dengan orang Jawa yang tinggal di Suriname sejak jaman dulu. Kenyataannya, orang-orang Jawa yang ada di Suriname tersebut tidak pernah mengklaim budaya Tari Serimpi, Wayang Golek, atau budaya Jawa yang lainnya sebagai budaya Suriname. Padahal jumlah mereka sangat besar di Suriname yaitu mencapai 15 persen total penduduk Suriname.

Oeh karena itu, sangat miris jika dikemudian hari, orang Aceh yang berdiam di Nagroe Aceh Darussalam mendengar bahwa budaya mereka adalah budaya milik Malaysia.

Memang kita tidak dapat menyalahkan kalau saja orang Aceh di Malaysia yang sudah menjadi warga negara Malaysia mengatakan bahwa Tari Saman adalah budaya mereka karena mereka juga adalah orang Aceh. Namun Tari Saman adalah budaya negara Indonesia dimana cikal bakal pertama kali orang Aceh dan budaya Aceh muncul dan bertumbuh sampai sekarang dan seterusnya. Adapun masyarakat Aceh di negara lain dan jika mereka membawa budaya tersebut ke negara tersebut, itu tidak dengan semata-mata mudahnya menjadi budaya negara tersebut.

Kita bisa mengambil contoh lain. Kita tahu bahwa budaya Cina yang ada di banyak negara. Salah satunya adalah di Malaysia. Populasi keturunan Tionghoa di negara ini sangat besar. Namun, mendukung komentar balik dari komentar pertama di atas, budaya-budaya Cina yang ada di Malaysia tetap merupakan budaya Cina. Indonesia tidak pernah mengakui Lion Dance sebagai budaya Indonesia dan demikianlah seharusnya juga di negara-negara lain.

Budaya Indonesia akan tetap menjadi budaya Indonesia dan budaya Malaysia akan tetap menjadi budaya Malaysia. Adapun migrasi yang terjadi adalah kehendak masing-masing individu. Terlebih lagi, jika kita ingin berpindah kewarganegaraan itu merupakan keputusan besar yang menuntut banyak konsekuensi. Menjadi warga negara lain berarti harus siap melebur dengan budaya setempat, sekalipun identitas diri tidak dapat dilepaskan.

Budaya Aceh akan terus menjadi budaya Aceh. Bahkan saudara sebangsa dan setanah air tidak dapat mengklaim bahwa budaya Aceh merupakan budaya Jawa atau Batak, budaya Indonesia, YA! Dan itulah mengapa kita harus bersyukur menjadi orang Indonesia. Negara ini bersatu dengan keragamannya yang tinggi. Seorang Minang akan mengatakan bahwa Tari Piring merupakan budaya Minang, namun dia dapat mengatakan bahwa Jaipongan adalah budayanya kepada bangsa lain, karena dia adalah orang Indonesia dan Jaipongan merupakan budaya Sunda yang nota bene merupakan bagian tak terpisahkan dari negara dan bangsa Indonesia. Di lain sisi, akan aneh jika kita mengatakan budaya Cina, Portugis, Belanda, atau Arab sebagai budaya Indonesia. Budaya-budaya tersebut mempengaruhi budaya Indonesia, namun originalitas budaya Indonesia lebih diutamakan, seperti yang dapat kita lihat pada kebudayaan Betawi. Dan meskipun jumlah orang Betawi peranakan Cina atau Arab bertumbuh di Indonesia, mereka tidak mengkalim bahwa budaya Cina atau Arab dengan segala keasliannya sebagai budaya Betawi, namun mendapat pengaruh YA, dan ini tidak sepenuhnya sama dengan budaya aslinya.

Mari kita bersama-sama menjaga budaya kita. Menjadi bagian dari bangsa Indonesia sekali lagi merupakan hal yang harus disyukuri. Bangsa ini sangat kaya akan berbagai macam budaya yang tinggi. Belum pernah saya melihat ada bangsa yang memiliki beribu macam budaya mulai dari upacara adat, tarian, musik, arsitektur, pakaian, bahasa, dan banyak hal lainnya dapat bersatu dan hidup rukun bersama. Kita sudah melalui banyak hal selama 62 tahun dan seterusnya kita akan maju bersama demi tanah air tercinta. Dan atas dasar persaudaraan, semoga kita bisa lebih mengerti bahwa banyak cara yang lebih baik untuk berargumen; terlebih jika kita adalah saudara serumpun. I love Malaysia, btw.

~ Guntur Purwanto